masukkan script iklan disini
Foto by dewisetiyanirach
Oleh: Labibah Putri Zalfa Ramadani
Hancurnya hati seorang anak laki-laki yang telah ditinggal selamanya oleh sang Ibunda membuat hidupnya tak lagi memiliki aturan terasa begitu hampa tanpa ada canda tawa lagi dirumah, rumah megah tapi tidak ada ibu didalamnya lebih baik aku tinggal dirumah kecil tapi ada ibu didalamnya, batinya. Ayahnya yang sudah memiliki keluarga baru dan sudah tidak peduli lagi dengan anak laki-laki semata wayangnya membuat Faris merasa putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya namun Faris menepis pikiran buruk tersebut menurutnya mengakhiri hidup bukanlah pilihan yang tepat, dengan sisa tabungan yang ada, Faris nekat pergi dari rumah ke daerah pedesaan yang sangat jauh dari kota tempat tinggalnya, ia pergi untuk mengubah nasib hidupnya. Jika kalian berfikir yang dimaksud mengubah nasib nya yaitu dengan kerja kalian salah, yang Faris maksud mengubah hidupnya yaitu memperbaiki hidupnya yang kini gelap tanpa cahaya dan berjalan tanpa arah.
Kini mobil yang ia bawa sudah berhenti tepat didepan gerbang sebuah pondok pesantren, sekarang sudah saatnya ia merubah hidupnya ia tidak peduli jika usianya kini sudah 21 tahun, baginya usia hanyalah angka, mencari ilmu tetap yang utama dan merubah diri menjadi lebih baik adalah sebuah keharusan.
“Assalamu’alaikum, punten niki leres toh kang Faris?” (Assalamu’alaikum,permisi ini benar kak Faris?) sapa salah seorang santri yang membuyarkan lamunannya, “Wa’alaikumussalam, nggih kang” (Wa’alaikumussalam, iya kak) jawabnya dengan senyum tulus yang terlukis di wajahnya. Kemudian Faris diajak untuk mengililingi asrama dan menuju kamar yang akan ditempatinya nanti. Sebelum masuk ke kamar Faris sempat melihat sekitar dan berguman “ini akan menjadi rumah kedua ku dan sumber kebahagiaanku”.
Beberapa minggu kemudian, Faris merasakan hangatnya kekeluargaan yang kini kembali hadir dihidupnya walaupun awalnya Faris sedikit canggung dengan sosial barunya. Mencoba beradaptasi dan belajar untuk hidup prihatin. Sedikit demi sedikit Faris sudah mulai menerapkan ilmu yang ia dapat dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Ditengah dinginnya malam Faris terbangun dari tidurnya untuk melaksankan shalat sunnah tahajud, kamar mandi yang sedikit jauh dari kamarnya membuat dirinya merasa takut tapi ia tak memperdulikan hal tersebut ia segera pergi ke kamar mandi dekat dengan masjid supaya nantinya ia langsung ke masjid tak perlu pulang lagi ke asrama. Sebelum ia masuk ke kamar mandi ia sempat melihat ke arah masjid dan ada seorang anak yang sedang mengaji dengan lantunan suara yang sangat indah, setelah mandi ia langsung bergegas ke masjid namun anehnya anak tersebut sudah tidak ada Faris berfikir mungkin dia sudah pulang ke asrama alhasil Faris shalat sendirian di masjid. Setelah selesai ia kembali memutuskan untuk kembali lagi ke kamar karena jam masih menunjukkan pukul jam 2 pagi, di tengah perjalanannya menuju asrama hawanya yang tidak enak membuat bulu kuduk berdiri sebelum ia melanjutkan perjalanannya ia sempat berdiri tepat didepan kelas madrasah dan ia melihat ada seorang anak yang ditemuinya di masjid tadi, dia sedang membawa al-qur’an kemudian dia menghampiri Faris seraya berkata “akhirnya kamu kesini,aku menunggumu”. Faris yang ketakutan wajahnya pucat pasi langsung berlari menuju kamarnya dan ia paksakan untuk kembali tidur.
3 tahun berlalu ia sering kali mendapat teror tapi anehnya teror yang ia dapat selalu baik salah satu contohnya ketika dirinya hendak mengikuti lomba tilawah ia mendapat secarik kertas yang bertuliskan “SEMANGAT KAMU PASTI BISA. UNTUK MENGHILANGKAN KERAGUANMU BACA SURAH AL-INSYIRAH 3X DAN LETAKKAN TANGANMU DI DADAMU”. awalnya Faris meragukan tulisan tersebut tapi setelah Faris ikuti ternyata benar hatinya menjadi tenang dan tidak merasa gugup lagi alhasil Faris memenangan juara 1 lomba tilawah. Selama ini Faris merahasiakan kejadian aneh yang menimpanya setelah pulang dari perlombaan akhirnya Faris menceritakan semuanya. Setelah itu banyak yang menyimpulkan bahwa anak yang sering menolong Faris adalah anak yang meninggal setelah pulang dari khotmil 30 juz. Mengapa? Karena ciri-ciri anak yang selalu menolong Faris sama persis dengan anak yang meninggal tersebut. Ketika mereka sedang asik berbincang datang senior mereka ikut menimbrung cerita Faris .”Aku tau orang yang kamu maksud itu dia adalah Haris temanku, dia kecelakaan setelah pulang dari khotmilnya di gedung kota kecelakaannya disebabkan rem mobil blong alhasil mobil yang dia tumpangi menabrak sebuah pohon dan dia berharap sepupunya dapat meneruskan perjuangannya sebagai penghafal al-qur’an, mungkin kamu adalah sepupu yang dia maksud” ujarnya namun Faris terheran-heran pasalnya Faris merasa tidak mempunyai sepupu anak pesantren, Faris memang sedang menghafal Al-Qur’an dan harapannya tahun ini ia bisa khatam 30 juz dan menepati harapan dari anak misterius itu dan ia akan mencari tahu asal usulnya.
Sungguh indah takdir Allah tahun ini Faris dapat menyelesaikan hafalannya dan menjadi juara pertama santri tahfidzul qur’an terbaik. Semua tangis orang tua pecah melihat anak-anak mereka di wisuda dan seisi ruangan penuh dengan keharuan, Faris berharap ayahnya dapat hadir namun apalah daya ayahnya sudah bahagia dengan keluarga barunya namun dibalik ini sosok anak misterius itu masih setia memantau Faris dari kejauhan dan melemparkan senyum, Faris yang sudah menganggapnya sebagai teman merasa bahagia karena kehadirannya.
Setelah acara selesai semua santri yang telah di wisuda pulang kerumah masing-masing, Faris dengan mandiri ia pulang sendiri memakai mobil yang ia bawa ketika pertama kali berangkat pondok. Sesampainya dirumah ia memutuskan untuk membersihkan seluruh ruangan rumahnya yang sudah di tinggalnya selama 3 tahun. Ketika Faris sedang membersihkan kamar orang tuanya, Faris nampak terkejut pasalnya banyak sekali kitab kuning dan ada kitab tafsir Al-qur’an yang sudah usang, Faris terkejut karena selama ia menempati rumahnya ia sama sekali tidak pernah memasuki kamar orang tuanya. Faris melihat-lihat kitab-kitab tersebut dan membersihkannya satu persatu, ketika ia sedang membersihkan kitab tafsir Al-qur’an yang sudah usang ia menemukan secarik kertas didalam kitab tersebut, tidak hanya secarik kertas tetapi juga ada sebuah foto keluarga, Faris tidak asing dengan wajah-wajah ada di foto dan ternyata benar itu adalah foto keluarga ayahnya, dan disecarik kertas itu tertulis nama Abdullah Haris Assegaf bin Zaenal Abidin Assegaf. Jadi selama ini Haris sosok misterius itu adalah anak pamannya, sekarang pamannya tinggal di Tarim dia tidak tahu jika anak pamannya ada yang meninggal dipesantren, lebih mengejutkannya lagi ia baru tahu nama panjang pamannya dan juga ia terkejut karena selama ini ayahnya menyembunyikan identitas aslinya. Faris sangat bersyukur dan berterimaksih kepada Allah SWT. yang telah memberinya hidayah sehingga ia berada dititik ini, “semua orang dapat berubah menjadi lebih baik selagi Allah masih memberi umur yang panjang maka gunakanlah dimasa hidupmu untuk hal kebaikan”. Ujarnya dalam hati seraya tersenyum tulus penuh rasa syukur.
Editor: Tim Riset & Keilmuan


