masukkan script iklan disini
Foto by freepik
Oleh: Mecca Ardelia
Dalam kehidupan sehari-hari, luka emosional sering muncul tanpa aba-aba, lahir dari ucapan yang menyakitkan, sikap meremehkan, atau perlakuan yang membuat hati mengerut tanpa sempat membela diri. Tekanan kecil yang terus menumpuk ini perlahan melemahkan mental, membuat seseorang merasa tersesat di tengah dunia yang tidak mau melambat. Saat hati mulai retak dan kepala terlalu penuh, seseorang membutuhkan tempat aman yaitu ruang sederhana di mana ia bisa menaruh beratnya, meski hanya sebentar.
Bagi sebagian orang, ruang aman itu ditemukan melalui dua hal yang tampak sepele namun punya daya pulih yang kuat: menulis dan segelas es matcha. Menulis membuka pintu untuk jujur pada diri sendiri, membiarkan luka-luka kecil maupun besar ditata ulang menjadi kalimat. Sementara itu, es matcha menghadirkan jeda yang dingin dan menenangkan, seolah setiap tegukan adalah cara lain untuk meredakan panasnya pikiran yang baru saja dihantam masalah. Dalam perpaduan antara kata-kata yang mengalir dan dinginnya es matcha, seseorang menemukan proses penyembuhan yang pelan, lembut, tetapi nyata seakan sebagian luka itu ikut luruh bersama sisa-sisa rasa matcha di bibir gelas.
Menulis sering menjadi cara paling sederhana namun paling jujur untuk memahami diri sendiri. Ketika seseorang menuliskan apa yang ia rasakan, ia sebetulnya sedang mengubah emosi yang tidak berbentuk menjadi sesuatu yang lebih mudah dijangkau. Banyak psikolog sepakat bahwa menulis dapat membantu menurunkan tekanan batin karena menyalurkan hal-hal yang sebelumnya hanya berputar di kepala.Pada saat pena mulai bergerak, pikiran yang tadinya sesak perlahan menemukan ruang untuk bernapas. Terkadang yang keluar hanya potongan kalimat atau bahkan satu kata yang berulang. Namun dari potongan kecil itulah seseorang mulai melihat apa yang sebenarnya mengganggu dirinya. Menulis membuat yang samar menjadi lebih jelas.
Di samping tulisan itu, sebuah gelas es matcha hadir seperti teman yang diam-diam mengerti. Rasa dinginnya memberi sensasi yang menenangkan, seolah ada sesuatu yang meredam panasnya ingatan yang tidak menyenangkan. Matcha sendiri memang dikenal memiliki L-theanine, zat yang secara umum dikaitkan dengan rasa tenang dan fokus, meski bagi banyak orang, efek yang paling terasa justru datang dari ritual meminumnya.
Ada sesuatu yang menenangkan dari cara es matcha mencair perlahan. Seakan-akan minuman itu mengajak seseorang untuk tidak terburu-buru menuntaskan ceritanya. Setiap tegukan menjadi jeda kecil yang membantu hati tetap tenang ketika mengingat hal-hal yang selama ini sulit diterima. Ketika tulisan mulai mengalir, seseorang bisa melihat kembali hal-hal yang dulu terasa membingungkan. Menulis memberi jarak dengan pengalaman yang menyakitkan, sehingga seseorang bisa menilai luka itu dengan lebih jernih. Dalam proses ini, yang dipulihkan bukan hanya pikiran, tetapi juga cara seseorang memaknai kejadian dalam hidupnya.
Ada saat-saat ketika emosi muncul begitu saja, entah itu rasa marah yang terlupakan atau air mata yang tiba-tiba turun. Reaksi seperti ini wajar dan justru menandakan bahwa seseorang sedang jujur pada dirinya sendiri. Banyak ahli menyebut proses ini sebagai pelepasan emosional yang sehat, bukan kelemahan, tetapi tanda bahwa seseorang berani menghadapi apa yang ia rasakan.
Seiring berjalannya waktu, tulisan yang lahir dari luka mulai berubah menjadi cerita yang lebih utuh. Dari catatan pendek, berkembang menjadi halaman-halaman yang menyimpan jejak pemulihan. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengubah pengalaman pahit menjadi karya baik buku, artikel, atau tulisan reflektif yang bisa membantu orang lain yang mengalami hal serupa. Membaca ulang tulisan-tulisan itu sering kali menghadirkan rasa bangga yang pelan namun hangat. Seseorang bisa melihat bagaimana ia tumbuh dari rasa sakit yang dulu hampir membuatnya jatuh. Es matcha yang menemani proses itu mungkin sudah lama habis, tapi perasaan tenang yang lahir bersamanya tetap tinggal.
Menulis akhirnya menjadi kebiasaan yang tidak hanya membantu memahami masalah, tetapi juga merawat diri. Banyak orang menganggap menulis sebagai bentuk terapi mandiri yakni cara untuk menjaga kewarasan di tengah keadaan yang tidak selalu bisa dikendalikan. Tidak perlu kata-kata indah; yang penting adalah keberanian untuk jujur. Ketika semua proses itu selesai, seseorang menyadari bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari hal besar. Terkadang ia muncul dari dua hal sederhana: kata-kata yang jujur dan segelas es matcha yang menenangkan. Dari keduanya, seseorang belajar bahwa luka tidak harus diabaikan atau dilupakan tetapi cukup dihadapi, ditulis, dan perlahan-lahan dilepaskan.
Dalam akhirnya, proses menyembuhkan diri tidak pernah berlangsung dalam satu tarikan napas. Ia tumbuh perlahan, melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang menenangkan dan tindakan-tindakan yang membuat batin kembali punya ruang untuk bernapas. Menulis yang semula hanya menjadi tempat pelarian dari hiruk-pikuk kritik, luka, dan tekanan sosial yang berubah menjadi medium refleksi yang memperjelas arah dan memulihkan makna. Segelas es matcha yang menemani setiap proses penulisan tidak lagi sekadar minuman, tetapi menjadi simbol konsistensi dan ketahanan: bahwa ketenangan dapat dipupuk seteguk demi seteguk, sebagaimana keberanian dipupuk kata demi kata.
Ketika tulisan perlahan berwujud menjadi karya yang utuh, seseorang menyadari bahwa luka yang dulu terasa menghabiskan ternyata dapat dirawat hingga menjelma menjadi kekuatan. Pendapat para peneliti hanya memperkuat hal itu: menulis mampu menurunkan beban emosional, dan kebiasaan sederhana seperti menikmati minuman yang menenangkan dapat menstabilkan suasana hati. Namun lebih dari data, pengalaman personal menjadi bukti paling nyata bahwa penyembuhan bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan sesuatu yang tumbuh dari dalam, dari kesediaan untuk melihat diri sendiri dengan lebih sabar. Pada akhirnya, esai ini ingin menegaskan bahwa siapa pun bisa menemukan jalannya sendiri untuk bangkit, meski jalur itu hanya berupa meja kecil, buku catatan kosong, dan segelas matcha yang dingin dan setia menemani.
Editor: Tim Riset & Keilmuan


