masukkan script iklan disini
Foto Dulu, Makan Belakangan: Jebakan di Meja Makan Masa Kini
Di kafe atau restoran masa kini, sebuah fenomena kerap terlihat. Saat piring disajikan, tangan lebih dulu meraih ponsel daripada sendok atau garpu. Sudut pencahayaan diperiksa, piring digeser demi komposisi yang sempurna, dan serangkaian foto diambil. Baru setelah itu makanan disantap meski sudah tidak lagi hangat. Fenomena ini dikenal sebagai foto dulu, makan belakangan, yang tampak sederhana tetapi sebenarnya mencerminkan perubahan budaya dalam menikmati momen sosial dan membangun identitas di era digital.
Makanan Sebagai Panggung Estetika
Generasi muda kini menjadikan visual sebagai bahasa utama. Media sosial bukan sekadar tempat berbagi, tetapi panggung untuk menampilkan diri, menunjukkan prestise, dan mendapatkan pengakuan. (Adiyat Makkuaseng & Fadilla, 2023) mencatat bahwa kegiatan foodstagramming sering dilakukan untuk menegaskan status sosial, di mana apa yang muncul di layar dianggap lebih nyata daripada pengalaman langsung.
Kafe dipilih bukan karena cita rasa kopi atau makanannya, tetapi karena sudut yang fotogenik. Nongkrong bersama teman pun berubah menjadi sesi produksi visual untuk memperkuat citra diri di dunia maya.
Kehadiran Digital vs Kehadiran Nyata
Ironisnya, dokumentasi yang dimaksudkan untuk mengabadikan momen sering justru mengurangi kualitas kebersamaan. Teman duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk dengan layar, memikirkan filter atau caption. Ada kepuasan ketika likes bermunculan, sementara ketidakhadiran foto menimbulkan rasa rugi. Kehadiran fisik ada, tetapi kehadiran mental kerap hilang.
Sebagai contoh, penelitian oleh Lestari et al., (2023) menunjukkan bahwa unggahan kuliner di Instagram tidak sekadar dokumentasi makanan, tetapi juga menjadi representasi citra diri pengguna. Fenomena “makan cantik” sering dibuat untuk menunjukkan status sosial atau estetika tertentu, meski kondisi nyata bisa berbeda.
Dampak Psikologis dan Sosial
Tidak hanya mengubah cara menikmati makanan, perilaku ini juga memengaruhi dinamika sosial dan psikologis. Spontanitas dan kenyamanan percakapan terganggu karena fokus beralih pada dokumentasi visual. Percakapan nyata dengan teman atau keluarga sering tereduksi, digantikan oleh perencanaan foto yang sempurna. Fenomena ini menimbulkan kompetisi sosial, kecemasan, dan tekanan untuk selalu tampil estetis. Kegiatan makan yang seharusnya menyenangkan bisa berubah menjadi beban psikologis karena tuntutan pengakuan digital.
Contoh Nyata: Dari Kafe ke Rumah
Bayangkan sekelompok sahabat di kafe baru. Piring disajikan, tetapi sebelum disantap, mereka menghabiskan beberapa menit mengatur piring, mencari sudut terbaik, dan mengambil beberapa foto. Selama proses itu, percakapan nyata nyaris berhenti. Hasilnya, kopi dan makanan sudah dingin saat dinikmati, sementara momen kebersamaan menjadi setengah hadir.
Fenomena ini juga terjadi di rumah. Saat keluarga makan bersama, sebagian anggota bisa lebih fokus mengambil foto untuk diunggah daripada berinteraksi langsung. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku ini merambah ruang publik dan privat, mengubah pengalaman sosial menjadi pertunjukan digital.
Menemukan Kembali Esensi Kebersamaan
Memotret makanan bukanlah hal salah dan dilarang, mengabadikan momen adalah naluri kreatif manusia. Tantangannya adalah keseimbangan. Ponsel pintar sebaiknya digunakan untuk merekam momen tanpa mengurangi kualitas interaksi. Kopi hangat dan tawa sahabat lebih berharga daripada ratusan likes dari orang asing di internet.
Dengan kesadaran akan keseimbangan antara dokumentasi digital dan kehadiran nyata, momen sosial tetap hangat, bermakna, dan berkesan. Ambil foto secukupnya, nikmati pengalaman, dan biarkan makan bersama menjadi kenangan hidup, bukan sekadar konten untuk validasi digital.
Kesimpulan
Fenomena “foto dulu, makan belakangan” menunjukkan bahwa citra digital sering lebih diutamakan daripada interaksi nyata. Media sosial memengaruhi cara kita menilai momen, menekan interaksi sosial, dan menimbulkan kebutuhan akan pengakuan digital. Dengan hadir secara mental dan menyeimbangkan dokumentasi visual, pengalaman makan tetap hangat, bermakna, dan berkesan.
Referensi
Adiyat Makkuaseng, M., & Fadilla, R. (2023). FOODSTAGRAMMING: MASYARAKAT HIPERREALITAS SEBAGAI PENUNJANG STATUS SOSIAL. https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/Sosioreligius/article/view/44367
Lestari, E., Mifta Farid, M., & Raden Fatah Palembang, U. (2023). Hiperealitas Unggahan Kuliner sebagai Representasi Citra Diri Pengguna Instagram. In Jurnal Ilmiah Komunikasi (Vol. 15, Issue 03). https://jikom.uima.ac.id/jurnal-stikom/index.php/jikom1/article/view/290
Penulis: Roro Lintang Aningtyas
Editor: Tim Riset & Keilmuan


