masukkan script iklan disini
Picture by Google
Kemajuan sarana komunikasi di abad ke-21 berkembang sangat pesat. Perubahan gaya komunikasi pun tak bisa dihindari. Salah satu dampak yang paling terasa adalah munculnya fenomena baru dalam cara kita berinteraksi, terutama setelah kehadiran media sosial.
Pada masa lalu, komunikasi lebih banyak dilakukan secara tatap muka atau melalui sarana nonverbal seperti surat yang ditulis manual, telegram, email, dan SMS. Semuanya membutuhkan waktu, proses, dan keberanian untuk menyampaikan pesan secara langsung. Kini, teknologi membuat batas itu hilang. Munculnya aplikasi berbasis internet memungkinkan komunikasi berlangsung instan dan masif. Jika dahulu untuk menyampaikan pesan kepada kelompok kita harus berkumpul, sekarang cukup dengan satu sentuhan, pesan dapat dikirim dan diterima banyak orang dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan ini membawa konsekuensi. Nilai simpatik dan empati sosial ikut bergeser, terutama pada Generasi Z, generasi yang tumbuh dan dibentuk oleh internet. Bersosial media sudah menjadi rutinitas harian, bahkan bisa dianggap sebagai "kewajiban". Fenomena ini tampak jelas pada para mahasiswa di salah satu universitas di Pekalongan yang kini ramai menggunakan akun media sosial anonim untuk saling menegur.
Fenomena “menegur via akun anonim” memunculkan banyak pertanyaan. Apakah kemampuan bersosialisasi secara langsung menurun? Apakah mental generasi kini melemah hingga menegur secara tatap muka menjadi sesuatu yang menegangkan atau menakutkan? Mengapa fenomena yang terjadi tepat di depan mata justru disampaikan melalui layar?
Tidak mengherankan, fenomena ini menimbulkan pro dan kontra. Sebagian pihak menganggap teguran melalui media sosial sebagai solusi yang aman: tidak perlu takut dimusuhi, tidak perlu gugup berbicara langsung, dan pesan tetap tersampaikan. Bagi mereka, anonimitas memberi kenyamanan.
Sebaliknya, ada yang menilai perilaku ini sebagai tindakan tidak etis dan tidak dewasa. Menegur tanpa identitas dianggap konyol dan menghindar dari tanggung jawab. Bicara langsung dianggap jauh lebih efektif dan beradab, karena menyampaikan kritik secara personal justru menunjukkan keberanian, ketulusan, dan respect terhadap orang yang ditegur.
Pada akhirnya, teknologi memang mempermudah komunikasi, tetapi penggunaan yang tidak bijak justru berpotensi merusak nilai-nilai sosial yang seharusnya dijaga. Kita mungkin semakin pandai mengetik, tetapi semakin canggung berbicara. Semakin banyak saluran komunikasi, tetapi semakin sedikit empati. Fenomena ini perlu disadari, supaya teknologi tidak menggerus sisi manusiawi kita sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan.
Penulis : Sucianti
Editor. : Departemen Riset dan Keilmuan.


