Official website of Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN K.H. Abdurrahman Wahid

  • Jelajahi

    Copyright © HMPS HKI UIN GUSDUR
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    https://hmpshkiuingusdur.blogspot.com/2021/12/pengertian-asas-asas-dan-unsur-unsur-hukum-pidana.html

    Menu Bawah

    Kejujuran Yang Membawa Kemenangan

    HMPSHKI UINGUSDUR Pekalongan
    21 Nov 2025, November 21, 2025 WIB Last Updated 2025-11-24T09:48:14Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Foto by @fnosuuj655 on pinterest


    Sebuah cerpen oleh Wafinda Lydiana Dewi


    Di sebuah sekolah MA, ada siswi bernama Laila. Laila merupakan anak yang ramah, berbaik hati, sopan terhadap guru dan juga teman-temannya. Suatu hari, ketika Laila sedang beristirahat di kantin, Laila dipanggil oleh seorang Guru untuk mendatangi ruang Guru. Sesampainya di ruang Guru, guru tersebut berkata :

    Guru: "Laila, kamu di sekolah ini adalah murid yang berprestasi jadi saya akan menawarkan perlombaan sains kepada kamu, apakah kamu tertarik untuk mengikutinya?"
    Laila: "Mohon maaf Ibu sebelumnya, apakah perlombaan ini saya akan berkompetisi sendiri atau ada partner lain selain saya?"
    Guru: "Oh iya, saya lupa bilang ke kamu bahwa saat berkompetisi nanti kamu akan bersama Inda siswi dari kelas XII-10 yang berprestasi seperti kamu."

    Di saat Guru tersebut menyebutkan nama Inda, Laila terdiam sambil berbicara dalam hati "Inda… dia kan...". Di saat Laila sedang memikirkan sesuatu hal, Guru pun menepuk
    pundak Laila sambil berkata :

    Guru: "Laila, kamu kenapa Nak diam saja?"
    Laila: "Tidak apa-apa Bu, saya cuman sedikit kaget saja tadi."
    Guru: "Saya kira kamu tadi kenapa, baiklah kalau tidak ada masalah besok kamu dan Inda bertemu saya ya di Perpustakaan, besok kita sudah mulai latihan untuk kompetisi."
    Laila: "Baik Bu, besok saya ke perpustakaan menemui Ibu. Kira-kira kapan ya kita akan berkompetisinya?"
    Guru: "Untuk kompetisinya akan dilaksanakan seminggu lagi."
    Laila: "Baik Ibu, terima kasih atas informasinya, kalau begitu saya permisi Bu."

    Setelah selesai dari ruang Guru, Laila pun kembali ke kantin untuk menemui teman-temannya yang masih berada di kantin. Sesampainya di kantin Laila bergabung dengan teman-temannya yang masih makan di kantin, lalu teman-temannya menanyakan ke Laila mengapa tadi ia di panggil ke ruang Guru.

    Evi: "Lai, tadi kenapa kamu di panggil ke ruang Guru?"
    Laila: "Oh... tadi Bu Dewi manggil aku, soalnya seminggu lagi ada kompetisi Sains."
    Lala: "Kompetisi? Sains?"
    Laila: "Iya kompetisi Sains, kenapa?"
    Lala: "Tidak apa-apa, kamu kan memang pintar, jadi tidak salah Bu Dewi panggil kamu buat ikut kompetisinya."
    Evi: "Itu kamu kompetisinya sendiri atau ada partner lain Lai?"
    Laila: “Aku sama Inda kompetisinya."
    Evi: "Inda? Dia kan murid yang suka curang saat ujian bukannya? Kok dia bisa ikut kompetisi ini?"
    Laila: "Aku juga bingung, tapi aku berharap saat kompetisi nanti dia jujur."
    Lala: "Ya, aku juga berharap seperti itu. Eh... udah mau bel, ke kelas yuk."
    Evi & Lala: "Ayok kita juga sudah selesai makannya."

    Setelah dari kantin mereka lalu kembali ke kelas untuk mengikuti pembelajaran. Inda adalah murid yang suka berbuat curang saat ujian tetapi ia tidak pernah k ji jietahuan oleh guru-guru di sekolah, makanya dia bisa dibilang sebagai murid berprestasi. Hanya teman-temannya saja yang mengetahui bahwa dia suka sekali berbuat curang saat ujian, entah itu ujian semester dan ujian harian. Pernah ada seorang murid yang menegur dia agar tidak berbuat curang tetapi dia tidak mendengarkannya. 

    Bel pulang sekolah pun berbunyi, itu artinya murid-murid di sekolah akan kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk Laila, Lala dan Evi. Sesampainya di rumah, Laila disambut hangat dengan ibunya.

    Laila: "Assalamualaikum Ibu, Laila pulang."
    Ibu Laila: "Waalaikumsalam Nak, gimana tadi di sekolah kamu?"
    Laila: "Seperti biasanya saja Bu, cuman tadi kata Bu Dewi aku akan ikut kompetisi Sains seminggu lagi Bu."
    Ibu Laila: "Wah alhamdulillah nak kalau kamu ke pilih ikut kompetisinya. Ibu harap kamu bisa membawa yang terbaik dan yang paling utama kamu harus jujur dalam segala hal."
    Laila: "Iya Ibu, Laila selalu ingat nasihat ibu untuk selalu jujur di mana pun Laila berada."
    Ibu Laila: "Ya sudah sekarang kamu bersih-bersih, makan habis itu kamu istirahat ya, baru nanti setelah istirahat kamu bisa belajar untuk kompetisinya."
    Laila: "Siap Ibu laksanakan!"

    Setelah mengobrol dengan Ibunya, Laila pun bersih-bersih, makan dan istirahat. Setelah istirahat ia belajar untuk kompetisi seminggu yang akan datang. Setelah beberapa jam belajar, Laila pun tidur untuk melanjutkan hari esok.

    ...

    Keesokan paginya, Laila bersiap-siap ke sekolah, sarapan lalu berangkat ke sekolah dengan perasaan yang sangat bahagia dikarenakan Laila sudah tidak sabar untuk mengikuti kompetisi yang akan datang. Sesampainya di sekolah, Laila bertemu dengan Evi dan juga Lala, mereka pun pergi ke kelas bersama. Sesuai jadwal, setelah jam pelajaran kedua berakhir, Laila bergegas menuju perpustakaan. Jantungnya sedikit berdebar, bukan hanya karena akan memulai latihan, tetapi juga karena akan bekerja sama dengan Inda.

    Di sudut perpustakaan yang lengang, Bu Dewi sudah menunggu sambil menata beberapa buku tebal di atas meja. Di seberangnya, seorang gadis dengan rambut sebahu duduk dengan tenang, dialah Inda. Ia mengangkat wajahnya saat Laila tiba, memberinya senyum tipis yang sulit diartikan.

    “Nah, ini Laila sudah datang. Ayo duduk, Lai,” sapa Bu Dewi ramah. 

    “Inda, ini Laila, partner-Mu. Dan Laila, ini Inda. Ibu yakin kalian bisa menjadi tim yang hebat.”

    “Hai, aku Laila,” sapa Laila sambil mengulurkan tangan. 

    Inda menyambutnya singkat. “Inda.” Jawabnya, terkesan dingin.

    Bu Dewi menjelaskan garis besar materi dan sistem kompetisi. Ada babak penyisihan berupa tes tulis dan babak final berupa praktikum di laboratorium. “Kunci kemenangan adalah kerja sama dan pemahaman konsep yang mendalam. Bukan sekadar hafalan,” tegas Bu Dewi, seolah tahu kelemahan banyak siswa.

    Latihan pertama dimulai. Bu Dewi memberi mereka setumpuk soal untuk dikerjakan bersama. Laila langsung tenggelam dalam analisis soal, mencoba memecahkannya langkah demi langkah. Sementara itu, Inda tampak lebih cepat. Ia dengan tangkas menuliskan jawaban di lembarannya. Laila terkesan, namun juga sedikit curiga saat melihat Inda sesekali melirik ke arah ponsel yang tergeletak di samping bukunya.

    “Sudah selesai?” tanya Inda dengan nada sedikit angkuh saat melihat Laila masih berkutat dengan satu soal sulit.

    “Belum, bagian ini aku masih kurang paham,” jawab Laila jujur.

    “Ah, gampang. Jawabannya C. Aku sudah cek di internet tadi, soal seperti ini sering keluar,” katanya enteng. Laila mengerutkan kening. Nasihat ibunya tentang kejujuran kembali teringat.

    Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Laila berusaha keras memahami setiap materi, sementara Inda lebih sering mencari jalan pintas. Laila mencoba membuka diskusi, berharap bisa menyatukan cara belajar mereka.

    “Inda, bagaimana kalau kita coba kerjakan soal-soal praktikum ini tanpa melihat kunci jawaban dulu? Biar kita tahu di mana letak kesulitan kita,” usul Laila pada suatu sore.

    Inda tertawa kecil. “Buat apa repot-repot? Yang penting kan hasil akhirnya benar. Lagian, Bu Dewi hanya melihat hasil, bukan prosesnya. Selama ini caraku selalu berhasil.”

    Laila menghela napas. Dinding di antara mereka terasa semakin tebal. Ia merasa berjuang sendirian dalam tim ini, bukan melawan soal-soal sains, melainkan melawan prinsip rekan setimnya sendiri.

    ...

    Seminggu berlalu begitu cepat. Hari kompetisi pun tiba. Laila bangun dengan perasaan campur aduk antara semangat dan cemas. Di lokasi perlombaan, puluhan tim dari sekolah lain sudah berkumpul, menciptakan atmosfer yang tegang sekaligus meriah.

    Babak penyisihan dimulai. Di dalam ruangan yang hening, setiap tim mengerjakan soal-soal pilihan ganda dan esai. Laila fokus pada lembar jawabannya. Namun, dari sudut matanya, ia melihat gerakan aneh. Inda tampak gelisah. Ia beberapa kali menunduk, seolah melihat sesuatu di kolong meja. Laila yakin, Inda sedang berbuat curang.

    Hati Laila berkecamuk. Haruskah ia diam saja demi kemenangan timnya? Atau ia harus menegakkan kejujuran yang selalu diajarkan ibunya? Teringat wajah tulus sang ibu, Laila mengambil keputusan. Dengan sengaja, ia menyenggol kotak pensilnya hingga jatuh berantakan di lantai, menciptakan suara yang cukup keras untuk membuat Inda terkejut dan menghentikan aksinya. Pengawas sempat melirik ke arah mereka, dan Inda langsung duduk tegak dengan wajah pucat.

    Waktu tes tulis berakhir. Saat berjalan keluar ruangan untuk istirahat sebelum babak final, Laila menarik lengan Inda ke sudut koridor yang sepi.

    “Inda, aku lihat yang kamu lakukan tadi,” ucap Laila dengan suara bergetar. “Itu tidak benar. Kita harus menang dengan cara yang jujur.”

    Wajah Inda memerah karena marah dan malu. “Jangan sok suci kamu! Kamu mau kita kalah? Ini kesempatan besar buat sekolah kita! Sedikit bantuan saja tidak akan jadi masalah!”

    “Ini bukan soal menang atau kalah, Inda. Inisoal harga diri. Kemenangan seperti apa yang bisa kita banggakan jika diraih dengan cara seperti ini?” balas Laila tegas.

    Inda terdiam, tak mampu menjawab. Pengumuman bahwa babak final akan segera dimulai memotong percakapan tegang mereka. Mereka masuk ke laboratorium dengan suasana canggung. Babak final adalah ujian praktikum. Setiap tim diberi sebuah kasus dan harus melakukan eksperimen untuk menemukan solusinya. Masalah yang diberikan ternyata sangat rumit, menuntut pemahaman konsep yang kuat dan kemampuan analisis, bukan sekadar teori hafalan.

    Inda langsung panik. Pengetahuan yang ia kumpulkan dari jalan pintas tidak membantunya sama sekali. Ia hanya berdiri kaku di depan peralatan laboratorium. Di saat genting itulah, Laila mengambil alih. Berbekal pemahamannya yang mendalam selama seminggu belajar jujur, ia mulai merancang langkah-langkah eksperimen. Melihat Laila bekerja dengan tenang dan terstruktur, Inda merasa malu pada dirinya sendiri. Ia sadar, inilah hasil dari sebuah proses yang jujur.

    “Tolong bantu aku siapkan larutan B,” kata Laila pada Inda, tidak dengan nada menyuruh, melainkan mengajak.

    Inda tersentak, lalu mengangguk. Untuk pertama kalinya, mereka bekerja sebagai sebuah tim. Laila menjelaskan logikanya, dan Inda mengikuti instruksinya dengan saksama. Perlahan, mereka berhasil mengurai masalah dan menemukan jawaban dari eksperimen tersebut tepat saat waktu habis.

    Saat pengumuman pemenang, nama mereka dipanggil sebagai Juara Kedua. Ada sedikit rasa kecewa, tetapi saat Laila memegang piala itu, hatinya terasa lapang dan bangga. Ini adalah kemenangan yang bersih. Inda berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.

    Setelah acara selesai, Bu Dewi menghampiri mereka. “Selamat, Laila, Inda. Kalian hebat.”

    Laila menarik napas dalam-dalam. “Bu, ada yang ingin saya sampaikan.” Dengan jujur, ia menceritakan semua kegelisahannya selama latihan dan apa yang terjadi saat babak penyisihan. Ia tidak menyalahkan Inda, melainkan menceritakannya sebagai sebuah pelajaran berharga bagi tim mereka.

    Bu Dewi mendengarkan dengan saksama. Beliau menatap Inda dengan tatapan yang
    sulit diartikan, bukan marah, melainkan penuh keprihatinan.

    “Terima kasih atas kejujuranmu, Laila. Ibu sangat bangga padamu,” kata Bu Dewi. Lalu ia beralih pada Inda. “Inda, prestasi itu penting, tapi integritas jauh lebih berharga. Hari ini kamu belajar sesuatu yang lebih penting dari sekadar memenangkan juara pertama.”

    Dalam perjalanan pulang, suasana di antara Laila dan Inda tidak lagi canggung.

    “Laila, maafkan aku,” ucap Inda lirih. “Dan... terima kasih. Kamu benar, kemenangan ini terasa jauh lebih berarti.”

    Laila tersenyum tulus. “Kita memenangkannya bersama.”

    ...

    Sesampainya di rumah, Laila memeluk ibunya erat sambil menunjukkan piala yang ia bawa. Ia menceritakan seluruh kejadian hari itu. Ibunya mengelus kepalanya dengan lembut. 
    “Ibu tidak pernah ragu padamu, Nak. Kamu lihat kan? Kejujuran mungkin tidak selalu membawamu ke tempat pertama, tapi ia akan selalu membawamu pada kemenangan yang sejati.”

    Laila menatap piala di tangannya. Ia tahu, piala itu bukan sekadar logam berkilau. Itu adalah bukti bahwa kejujuran yang ia pegang teguh telah membawanya pada sebuah kemenangan yang akan ia kenang selamanya. Kemenangan atas egonya, ketakutannya, dan pada akhirnya, memenangkan hati nuraninya sendiri.




    Editor: Tim Riset & Keilmuan










    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    HMPSHKI Universitas K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

    HMPSHKI UINGSUDR

    +